Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Agustus 2013

KHUTBAH IDUL FITRI 1434 H (Sebuah Kesan)

Lelaki muda dengan postur tubuh agak kurus itu menaiki mimbar. Dialah yang kali ini menjadi khatib di shalat idul fitri yang dilaksanakan di masjid dikompleks perumahan Kaputi Indah. 

Sebagaimana khutbah pada umumnya, penggambaran suasana idul fitri menjadi ciri khas pada setiap pembukaan khutbah sesudah mengucapkan takbir dan membacakan ayat – ayat Al Qur’an. Namun ada yang menjadi sesuatu yang baru kali ini. Sang khatib tidak menyertakan kalimat – kalimat yang membuat suasana hati para jamaah mengharu biru bahkan kemudian bisa sampai berlanjut dengan termehek – mehek. Sampai akhir khutbah pun kalimat – kalimat pengharu biru suasana tetap tak tersentuh.

Sepertinya sang khatib langsung menohok pada topik mengenai keutamaan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi orang – orang yang bertakwa. Suasana hambar tercipta seketika dan saya pun merasakan kehambaran suasana ini. Sepertinya sang khatib ingin menyampaikan sesuatu yang lebih utama dari sekedar mengharu birukan suasana. Masalah rasa kehilangan orang – orang yang dicintai jangan sampai membuat kita terhanyut dan  untuk kemudian menyesali kepergiaan mereka sehingga menjadi lupa bahwa ada tugas yang lebih penting bagi kita selagi kita belum dipanggil oleh sang penguasa seluruh jagad, ALLAH SWT. 

Suara “ehem” layakanya orang yang tengggorokannya gatal terdengar silih berganti. Memang bisa disangsikan juga kalau suara itu adalah suara kebosanan karena khutbah namun melihat dari pola tingkah jamaah yang bisa saya perhatikan, sepertinya ingin mengatakan “hei kami bosan dengan isi khutbahmu” atau “bisakah kau ganti topik khutbahmu!!” namun semuanya terganti dengan suara “ehem” saja sebagai sebuah sikap alternatif dari jamaah mengingat bahwa mereka (termasuk saya tentunya) sedang berada di masjid tentunya juga karena dalam nuansa hari raya idul fitri. 
Cukup lama juga bagi saya untuk mencoba mencerna maksud sang khatib mengangkat topik  tentang keutamaan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa pada khutbah shalat Ied kali ini. Rasa bosan dan hambar pun mendera saya. Untuk mengobati kehambaran perasaan saya sendiri saya terus memaksakan diri untuk keluar dari perasaan hambar dan bosan agar bisa mendapat sedikit sudut meski sempit untuk mengambil secuil pengertian dari khutbah idul fitri kali ini. Setiba di rumah barulah saya bisa mengambil sedikit pengertian, itupun dengan menambah sedikit energi berfikir saya dan pengertian yang saya dapatkan tentunya bukan sebuah pengertian dari maksud sang khatib dalam isi khutbahnya tapi sebuah pengertian yang lain tentang apa yang saya sebut sebagai “kebiasaan umum”.

Ya... selama ini saya sering mendengar dan juga menyaksikan bagaimana para khatib senantiasa membangun suasana mengharu biru dengan mengatakan tentang keadaan saudara – saudara kita yang tidak bisa atau tidak ada lagi bersama kita baik itu bersama menjalankan ibadah puasa di bulan ramadhan sampai merayakan idul fitri. Sepertinya ini menjadi sebuah metode jitu untuk membangun antusiasme jamaah untuk serius mendengarkan khutbah sampai selesai. Apalagi kalau sang khatib mengatakannya dengan suara yang serak seperti sedang menahan tangis tentu akan menjadi sebuah nilai plus bagi jamaah. Sudah barang tentu jamaah shalat ied akan ikut merasakan keharuan secara berjamaah pula bahkan bila perlu ada yang ingin menangis sampai tak sadarkan diri layaknya gaya para fans fanatik sebuah grup band seperti yang seringkali kita saksikan. 

Dan pada hari ini. Di hari raya idul fitri 1434 H di hadapan jamaah shalat ied. Seorang lelaki muda menjungkirbalikkan metode jitu tersebut dimana selama ini telah menjadi sebuah “kebiasaan umum”. Meski dengan suara “ehem” yang bersahut – sahutan dari para jamaah shalat ied. Bahkan sepulang dari shalat Ied, ayah saya pun mengatakan ketidak puasannya atas khutbah idul fitri tersebut.
Walaupun sempat merasakan kehambaran itu namun disatu sisi saya salut dengan sang khatib tersebut, selain berhasil menjungkirbalikkan “kebiasaan umum”, sang khatib juga telah  memberi pengertian tersendiri bagi saya pribadi. Terima kasih buat sang khatib.


 Gorontalo, 8 Agustus 2013
1 Syawal 1434 H

Sabtu, 14 April 2012

KENAPA HARUS ADA PANCASILA?


Hari lahir pancasila masih jauh untuk diperingati namun tidak ada salahnya bila kita mulai membahasnya mulai dari sekarang. Pembahasan soal Pancasila, dalam tulisan ini lahir dari sebuah pengalaman ketika saya diundang untuk menjadi fasilitator pada kegiatan Latikan Dasar Kepemimpinan yang bertempat di SMAN 1 Bonepantai.
Judul diatas pun, saya ambil dari sebuah pertanyaan dari seorang siswa bernama Rikil Muhammad. Ada dua pertanyaan yang dikemukakannya saat itu. Pertanyaan pertama adalaah, Kenapa harus ada Pancasila ? dan pertanyaan kedua dari siswa tersebut adalah; dalam sila ketiga Pancasila tertulis kalimat “Persatuan Indonesia” namun kenapa harus muncul GAM ( Gerakan Aceh Merdeka) dan Papua Merdeka ?  saya cukup kaget dan begitulah kenyataannya karena pertanyaannya yang begitu sederhana namun butuh sebuah penjelasan yang jelas. Saya hanya berfikir tentang bagaimana menjelaskan dua pertanyaan itu. Untuk pertanyaan pertama, saya bisa saja mengatakan bahwa Pancasila hadir sebagai sebuah dasar dan jati diri bangsa tapi itu masih terus dipertanyakan walaupun pada akhirnya saya memutuskan untuk menjelaskan soal Pancasila sebagai jati diri bangsa Indonesia ini. Selanjutnya pertanyaan kedua yang juga msih berhubungan dengan Pancasila khususnya sila ketiga dan kenyataan yang pernah dan sedang terjadi di Indonesia. Lagi – lagi saya harus berfikir cukup keras untuk mencari jawaban untuk menjelaskan aib negara ini kepada anak – anak SMA dan SMP. Tentu saya juga tidak ingin berkata bahwa Negara ini dalam keadaan baik – baik saja tapi saya harus menmberi penjelasan sederhana se sederhana dan kritisnya pertanyaan siswa SMA ini.

Pertanyaan  selanjutnya datang dari seorang siswa SMP bernama Teguh S. Pratama. Siswa ini bertanya soal “kenapa Di Indonesia masih ada yang miskin dan anak – anak tidak sekolah?”  lagi – lagi pertanyaan yang sederhana namun tidak sesederhana penampilannya. Juga ada pertanyaan lain yang senada dengan pertanyaan dari siswa SMP ini, tentang “Bagaimana cara “menindas” kemiskinan di Indonesia?” awalnya saya terkejut dengan kata “menindas” yang digunakan siswa ini. Sampai saya menemukan sebuah padanan dari kata tersebut yakni “menghilangkan”. Selanjutnya, pertanyaan kembali datang dari seorang siswa SMA yang mempertanyakan keabsahan teori evolusi Darwin tentang manusia berasal dari kera. Sampai pada pertanyaan terakhir yang kembali mempertanyakan soal Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa.
Kegiatan LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) yang diselenggarakan oleh para pengurus osis SMAN 1 Bone Pantai, bekerja sama dengan mahasiswa KKLP Universitas Ichsan Gorontalo pada tanggal 11 Februari 2012 menjadi sebuah kegiatan yang bisa memberi sebuah pelajaran berharga. Apalagi ketika mereka bertanya soal Pancasila dan kemiskinan yang terjadi di negara dan bangsa kita ini.  Tentu saja kita tak bisa terus berkata bahwa Pancasila itu tetap menjadi falsafah hidup bangsa Indonesia kalau pada kenyataannya konsep Bhineka Tunggal Ika masih saja terabaikan. Kemunculan gerapakan – gerakan yang meminta kemerdekaan tidak pula harus dijelaskan sebagai sebuah gerakan untuk merongrong kekuasan Negara. Melainkan sebuah gerakan atau usaha untuk melakukan kritik terhadap pemerintahan Negara yang terlalu banyak bersembunyi dibalik indahnya kata – kata mengenai kesejahteraan dan kemakmuran lewat masuknya modal yang besar dan pada ahirnya berujung pada kesengsaraan rakyat.
             
Tentu saja, semua pertanyaan – pertanyaan yang terlontar dari mereka juga menjadi pertanyaan kita selama ini tentang kelangsungan negara dan bangsa ini. Iklan dan kampanye politik tentang kesejahteraan serta kemakmuran tentu hanya menjadi alat bagi para elit – elit politik untuk merayu massa agar bisa meraup dukungan suara yang banyak. Semakin banyak dukungan yang diberikan maka semakin terbuka luas kesempatan bagi para leit politik itu untuk duduk menikmati indahnya kekuasaan. Lalu, janji kesejahteraan pun perlahan mulai dilupakan dengan berbagai macam alasan dan segala macam perhitungan – perhitungan matematis soal kesejahteraan dan kemakmuran. Bisa kita lihat sendiri buktinya, bagaimana kemudian orang miskin harus perlu dihitung kemiskinannya untuk selanjutnya diberi label sebagai orang miskin agar bisa mendapat keabsahan bahwa dirinya benar – benar orang miskin.
Lalu, kita masih memungkiri bahwa klas – klas dalam system social kemasyarakatan itu tidak ada?  Tentu terlalu munafik untuk mengatakan bahwa klas – klas social tidak pernah ada. Pemberian keabsahan sebagai orang miskin melalui prosedur birokrasi tentu menjadi sebuah bukti nyata bahwa pemerintah negara ini sedang menciptakan sebuah wilayah baru untuk orang miskin. Penggusuran dan relokasi pun menjadi sah untuk dilakukan melalui berbagai macam alasan. Inilah bukti bahwa pemiskinanlah yang harus kita lawan bukan kemiskinan.
Tentu tidak mengherankan apabila, ada yang bertanya soal keberadaan Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa ini. Kita tidak mungkin bisa membangkitkan lagi para founding fathers yang sudah bersepakat untuk menjadikan Pancasila sebagai dasar dan falsafah hidup bangsa dan Negara ini. Dan kalaupun kita bisa membangkitkan mereka semua, apakah kita harus meminta pertanggungjawaban mereka karena sudah terlalu berani mewakili keseluruhan suara penduduk negara ini untuk menetapkan pancasila sebagai dasar serta falsafah bangsa ini ?
                                                                                                    Kaputi Indah, 30 Maret 2012

 

Senin, 23 Mei 2011

DENTING REVOLUSI


Terkadang ada rasa kesal ketika anak – anak muda yang “sudah mampu bersekolah” sampai ke jenjang universitas dan berkecimpung di organisasi kampus baik ekstra dan intra kampus meneriakkan kata revolusi. Padahal kalau dilihat dari rentang sejarah Indonesia. Indonesia ini pun hanya memiliki satu babakan sejarah gerakan revolusi yakni di tahun 1945  dan dari revolusi yang di gembar – gemborkan oleh Soekarno lewat pidato maupun orasi – orasinya sampai sempat menjadi diktator marhaenis di Asia Tenggara khususnya Indonesia dan ada baiknya juga mengatakan terima kasih kepada anak – anak muda tahun ’66 atas keberhasilan mereka menumbangkan Soekarno serta “menjadi penyokong” berdirinya negara Indonesia di bawah kepemimpinan fasis orde baru yang bibit – bibit fasis dan cenderung rasialis bertahan sampai hari ini, dan tak lupa pula untuk mengucapkan terima kasih kepada anak – anak muda terpelajar yang di tahun 1998 berhasil menumbangkan si rezim penumbang orde lama dan sekaligus pengekang demokrasi.
Lalu untuk apa revolusi di dengung – dengungkan kalau yang lahir malah kegagapan saja?
Dari sini saya lalu ingat sebait puisi seorang kawan, Sen Teno namanya, yang berjudul “Revolusi Menjadi Lelucon” pada bait terakhir puisi itu berbunyi seperti ini :
Inikah lelucon revolusi
Membumi namun tak menyentuh tanah
Mengudara dengan pinjaman udara
Menghujam tapi membuat tertawa
Beginikah nasib revolusi?    

Memang sekarang revolusi tak lagi revolusi  artinya kata “revolusi” yang bagi sebagian orang adalah sesuatu yang begitu bermakna kini tak lebih dari pemanis mulut saja dan ini selalu muncul dari mulut anak – anak muda yang mengaku dan pengaku sebagai anak muda yang sudah merasa cukup membaca Karl Marx, Engels, Lenin, Trostky, Stalin, Mao Ze Dong sampai Tan Malaka lantas dengan mudahnya mengatakan bahwa “kita harus revolusi!!!” atau yang lebih ironis lagi ada pula anak muda yang hanya kebetulan membaca atau mendengar sepintas lalu soal Karl Marx lantas teriak – teriak soal revolusi. Menjadi kiri itu seksi tapi tetap saja se-seksi apapun istilah kiri itu akan tetap kalah seksinya dengan Maria Ozawa alias Miyabi.

Reformasi ternyata membawa sebuah kesialan bagi kelompok anak muda yang mati – matian menyembunyikan kata revolusi dalam hatinya. Inilah rasa sesal lain yang saya katakan di awal tulisan ini. Buku – buku tentang gerakan dunia ketiga yang hampir kesemuanya beraroma “kiri” mudah di dapatkan. Tokoh – tokoh gerakan radikal baik itu dari kubu Manshevik dan Bolshevik dari Rusia sampai pada tokoh – tokoh gerakan radikal Indonesia baik itu Soekarno, Hatta, Tan Malaka, Syahrir semua bisa didapatkan dengan mudah bahkan lebih dari itu gambar mereka pun terpampang di kaos – kaos. Awalnya gerakan pemampangan gambar tokoh radikal dan revolusioner ini menjadi sebuah alat propaganda misalnya soal gambar salah satu tokoh revolusi Kuba, Che Guevara begitu banyak di cari dan menjadi ikon perlawanan sampai datang masa dimana ikon Che Guevara sudah berubah jauh beralih fungsi dan maknanya dari sebagai alat propaganda  menjadi ladang penumpukkan modal / capital yang tentunya menjadi sasaran kritik tokoh yang wajahnya terpampang di kaos tersebut.

Hadirnya jejaring social network, facebook, sebagai sebuah bukti dari pesatnya perkembangan teknologi dalam dunia ke – internet – an sebagai sebuah dunia ke empat setelah tiga dunia yang sebelumnya ada menjadi tantangan tersendiri buat anak – anak muda yang “menggandrungi” gerakan – gerakan revolusioner.  Kemampuan dalam memasuki ranah atau ruang dunia ke empat yang sering di sebut sebagai dunia maya ini hanya berkisar pada memenuhi tuntutan pergaulan saja selebihnya tidak. Untung saja, ruang dalam dunia maya misalnya facebook lebih bisa dikatakan (sedikit) demokratis untuk hal – hal yang dianggap tabu oleh keadaan social di dunia nyata. Istilah – istilah yang sampai hari ini masih menadi momok menakutkan seperti komunisme, sosialisme, gerakan fundamental keagamaan lebih bisa mendapat ruang yang cukup nyaman. Akan tetapi, itu semua hanya sebatas dalam dunia maya saja selebihnya tidak.

“Biarkan anak – anak muda itu bergembira disitu dengan sebanyak mungkin istilah yang kita perangi bersama, dan kita tidak perlu risau dengan itu. Yang harus kita lakukan sekarang adalah mematangkan kondisi buat anak – anak muda, sebuah kondisi dimana mereka akan mengusahakan apa yang menjadi cita – cita kita, penumpukan modal pribadi”. Inilah kalimat yang tersembunyi dan sering terabaikan oleh kita dari para pemegang kekuasaan produksi bernama kapitalis. Perusahaan TNCs (Trans National Corporations) dan MNCs (Multy National Corporations) melenggang keluar masuk Negara demi Negara di dunia ketiga termasuk Indonesia sementara anak mudanya hanya sibuk berkutat dengan pertarungan – pertarungan yang sudah hampir berabad lamanya terjadi malah dipraktekkan lagi di masa sekarang.

“Berteriaklah sekeras – kerasnya soal revolusi, komunisme, sosialisme sesuka hati kalian wahai anak muda. Semakin keras teriakan kalian maka semakin keras pula perusahan – perusahaan kami mengeruk isi perut bumi yang kalian pijaki”. Ini pula yang dikatakan oleh para pembesar – pembesar pemilik modal dan pemberi hutang ke Negara kita tapi sayangnya kata- kata ini tidak pernah tercermati dalam teks- teks yang terdapat di ratusan buku – buku radikal.

Ketidak cermatan melihat kalimat – kalimat itu bukanlah tanpa sebab.  Kegagapan dan ketidakmandirian dalam berilmu pengetahuan menjadi penyebab ketidak cermatan tersebut. Sehingga ilmu pengetahuan langsung menjadi sesuatu yang serba tetap dan kaku sama seperti ketika mempelajari induk ilmu pengetahuan dan induk dari gerakan revolusioner yakni filsafat. Penumpukkan konsentrasi pada sesuatu yang bersifat insidental seperti kalimat – kalimat kunci misalnya “Cogito ergo sum” nya Rene Descartes  atau “tuhan telah mati” nya Nietszche  adalah sasaran utama demi menunjang argumentasi – argumentasi yang terbukti kosong melompong. Tokoh – tokoh filsafat tidak dianggap sebagai manusia yang berproses atau berdialektika baik itu selama dia hidup bahkan sampai setelah kematiannya, tapi dinilai dan diakrabi sebagai sebuah kekayaan intelektual semata. Dari soal kekayaan intelektual inilah bibit – bibit kapitalisme mulai terbentuk dalam ruang berfikir anak muda tanpa disadarinya.

Ketidak sadaran dan keterkungkungan ilmu pengetahuan hanya pada satu corak pengetahuan saja menjadikan anak muda tidak lagi bisa memahami dengan jeli dan bertindak secara kreatif untuk mengusung rencana – rencana strategis dari apa yang sering didiskusikannya dengan teman, sahabat dan kawan dalam kelompok kecil maupun besar.

Lalu, apa gunanya teriak revolusi? Sungguh tak ada sebuah pelarangan berarti soal meneriakkan atau sekedar menggumamkan revolusi akan tetapi yang menjadi soal adalah kebebasan meneriakkan “revolusi” itu tidak di barengi dengan sebuah pertanggung jawaban  yang minimalnya tidak perlu berstandar keilmuwan bikinan kelompok liberatif pengusung pasar bebas. Pertanggung jawaban keilmuwan inilah yang membedakan teriakan revolusi kita dengan teriakan revolusi anak – anak yang baru saja mengidap penyakit ke kiri – kirian.
Semoga saja revolusi akan mendapat tempat yang lebih layak lagi dan bukan menjadi sebuah lelucon seperti yang di katakan sahabat Sen Teno dalam puisinya itu.
“Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”
“ Kalau bukan kita, siapa lagi?”
                                                                                                                                         
Kaputi Indah,  Februari 2011

Kamis, 08 Juli 2010

TEMAN BERSANTAI PAGI HARI

“TRAFFIC LIGHTS”

Sebelum memulai aktivitas kita hari ini. Saya ingin sedikit mengajak teman - teman sekalian membaca tulisan singkat ini barang lima belas menit saja sambil menikmati secangkir kopi atau teh atau minuman hangat lainnya bersama keluarga tercinta. Renung awal kita untuk hari ini adalah tentang si Traffic Lights alias lampu lalu lintas atau yang juga sering di sebut sesuai rasa lidah kita yakni lampu merah.

Setiap harinya, kita menggunakan alat transportasi baik itu berupa kendaraan bermotor roda dua, roda empat atau yang rodanya lebih dari empat. Bahkan sebagai pejalan kaki sekalipun. Saat akan melewati sebuah persimpangan akan bertemu dengan enam buah tiang yang tertancap di bagian sudut jalan. Ketiga lampu yang tersusun dan terdiri dari tiga warna; merah dibagian atas, disusul lampu berwarna kuning dan terakhir adalah lampu berwarna hijau. Apabila kita melihat dengan seksama ketiga lampu ini, pernahkah anda atau teman – teman sekalian mengingat tentang sebuah lagu anak – anak yang syairnya seperti ini;

”pelangi – pelangi alangkah indahmu
Merah kuning hijau di langit yang biru”

Dari syair diatas tadi, saya jadi bertanya - tanya apakah konsep tentang lampu merah itu adalah hasil permenungan dari lagu berjudul “Pelangi – Pelangi” tersebut ? artinya kemudian keberadaan pelangi yang di lukiskan di lagu itu dimana hanya menyebutkan tiga warna dari beberapa warna yang sering disingkat MeJiKuHiBiNiU (Merah, Jingga, Kuning, Hijau, Biru, Nila, dan Ungu) merupakan ide dasar untuk kemudian di realisasikan oleh pihak yang mengeluarkan ide baru dari ide ke dua atau lanjutan (sebab ide pertama atau ide dasarnya adalah fenomena alam bernama pelangi) yakni lagu pelangi dan ide ke dua atau ide lanjutan tersebut merupakan hasil dari sebuah gambaran kenyataan atau dalam hal ini adalah fenomena alam, sebagai ide dasarnya. Soal perkembangan ide ini tak perlu kiranya saya jelaskan secara terinci lagi sebabnya adalah saya juga jadi bingung sendiri.

Traffic lights (seterusnya saya akan mengatakan sesuai rasa lidah kita dengan “Lampu merah” ) telah menjadi sebuah kebutuhan tersendiri bagi para pengguna jalan raya. Saking begitu memeperhatikan si lampu merah ini saya mencoba menuliskannya di status facebook untuk sekedar melihat tanggapan teman – teman facebook lainnya, meski tanggapan itu datang dari dua orang teman facebook saya. Saya kira itu sudah cukup menjadi sebuah bahan untuk meneruskan menulis catatan kecil ini. Berikut di bawah ini adalah isi status saya di facebook disertai tanggapan dua orang teman saya itu;

Status saya: Kenapa kita semua mau saja diatur oleh traffic lights atau si lampu lalu lintas alias si lampu merah ?
Komentar ;
Teman 1 : Yang mengatur bukan si lampu merah, tapi diri sendiri. Dia tak lain hanyalah sebagai penguji kepatuhan untuk kita.
Saya : apa karena manusia atau tiap orang itu tidak mau saling memahami dan tidak mau mengalah sedikit pun?
Teman 1 : Mungkin juga, karena itu salah satu fungsinya nafsu. Serakah, tak sabaran, gelisah, dsb.

Sebelum saya melanjutkan diskusi kecil pagi itu dengan teman ke 1 tadi, ada tanggapan lagi dari seorang teman (selanjutnya ditulis Teman 2)

Teman 2 : Untuk menghindari kecelekaan lalu lintas juga.
Saya : @ teman 1 ; berarti tanpa sadar. Setiap orang sudah merelakan sepenggal hidupnya diatur oleh mesin.

@ teman 2 ; tapi ternyata masih masih ada juga terjadi kecelakaan dan itu terjadi di simpangan yang ada lampu merahnya.

Selanjutnya tak ada lagi tanggapan dari teman ke 2 tadi. Dan tinggal saya dan teman ke 1 yang terus bertukar pandangan soal si lampu merah.

Teman 1 : Sekali lagi bukan mesin yang mengatur. Semuanya dikembalikan ke diri masing – masing. Mesin – mesin itu hanyalah penguji yang bisa jadi juga sebagai penggoda. Bila kita mampu mengarahkan nafsu, maka takkan ada kecelakaan lalu lintas. Filosofi rasa kayaknya...hehe.
Saya : baik, bisa di terima. Terima kasih banyak atas sepenggal diskusi pagi ini. Semoga saja si lampu merah bisa menjadi penguji yang hebat.

Teman 1 : Okok....Cuma mo se ilang manganto di pagi hari kwa ini. Makasih juga buat diskusinya.

Saya sengaja mengganti nama kedua teman tadi, jadi saya mohon maaf. Sebenarnya masih ada enam percakapan terakhir yang tersisa tetapi keenam diskusi sisa tersebut sudah saya bicarakan di atas tadi yakni seputar hubungan si lampu merah dan lagu anak – anak tersebut. Dimana saya selalu merasa lucu saja, ini saya katakan kepada teman saya itu dan dia mengatakan bahwa tiap warna mempunyai maknanya sendiri – sendiri makanya di gunakan dalam warna lampu lalu lintas. Diskusi kecil pagi hari ini terjadi tanggal 13 Februari 2010 mulai dari pukul 05 : 45 WITA sampai pukul 07 : 02 WITA.

Selanjutnya kita bicara sedikit soal makna warna sebagaimana yang di katakan teman saya tadi itu. Dalam makna umum tentang ke tiga lampu dalam aturan lalu lintas berarti warna merah bermakna kendaraan harus berhenti. Lampu kuning, nah lampu kuning ini yang dalam alam pikir saya tidak jelas maknanya apa. Sebagai warna perantara antara warna hijau sebagai warna yang bermakna kendaraan boleh berjalan kembali ke warna merah, seakan memberi makna bagi saya pribadi atau para pengendara lain untuk cepat – cepat menyeberang sebelum lampu merah menyala.

Selain itu juga ada lampu lalu lintas yang dipasang dengan menggunakan dua warna yang sama yakni warna kuning dan menyala secara bergantian terus menerus dengan waktu pergantian tidak lebih dari satu menit. Jadi kelihatan berkelap – kelip. Kalau meliat jenis lampu lalu lintas yang jenis warnanya sama ini kita bisa memaknainya sebagai peringatan untuk hati – hati. Tapi apakah benar maknanya seperti itu ? dan apakah ini juga berlaku bagi lampu kuning yang ada pada lampu lalu lintas yang biasa kita kenal ?

Sekian dulu. Semoga kita bisa bertemu di persimpangan jalan saat lampu merah sedang menyala. Pertanda kita harus berhenti sejenak meski sekedar untuk melihat sesama kita di sisi kiri dan kanan jalan maupun sesama pengendara.

Senin, 15 Juni 2009

DARI MASAKAN KE IDENTITAS

Setiap daerah yang ada di nusantara ini pasti memiliki berbagai macam masakan khas daerahnya masing – masing. Dari sini saya kemudian teringat sebuah lagu anak – anak dimana bercerita tentang masakan khas daerah yang dipopulerkan oleh seorang penyanyi cilik yakni Enno Lerian. Dalam lagu ini, diceritakan bahwa apabila ingin merasakan masakan khas ( dimana dalam lagu tersebut disebut sebuah daerah bernama Padang ) kita tidak perlu bersusah payah untuk pergi ketempat asal masakan tersebut tapi kita bisa mencicipi masakan khas tersebut di daerah kita sendiri. Misalnya soal masakan Padang tadi yang kini bisa saja dijumpai di setiap kota.
Saat ini, kita bisa menyaksikan sendiri bagaimana sajian kuliner yang ditawarkan menggandeng nama asal sebagai tempat awal dia lahir di awal pembuka tadi saya sudah memberikan satu contohnya dari sekian banyak sajian kuliner yang ada. Ini menjadikan bahwa sebuah masakan tidak hadir sebagai sesuatu yang berdiri sendiri akan tetapi ada bentuk yang lain yang mengikutinya. Sesuatu yang lain terbawa dalam sebuah masakan adalah asal makanan tersebut.
Begitupun yang menjadi masakan khas kita di daerah ini, kita begitu akrab dengan sebuah masakan bernama tinutuan. Masakan yang tediri dari campuran sayuran ini sudah sangat akrab ditelinga dan tenggorokan kita masing – masing. Setiap dari kita pernah mencicipinya dan itu tidak hanya sekali atau dua kali saja. Sampai – sampai nama masakan ini pun menjadi sebuah slogan bagi kota Manado dengan kalimat “Manado Kota Tinutuan”. Nama masakan ini pun sepanjang pengamatan saya selain disebut tinutuan juga disebut midal, dan saya tak tahu nama masakan ini dalam bahasa daerah Minahasa.
Dalam perkembangannya tinutuan ternyata tidak hanya ada di daerah sekitaran Manado dan Minahasa saja, tetapi merambah sampai di seantero pulau Sulawesi Utara termasuk Gorontalo ( daerah ini sudah terpisah dari Provinsi induknya dahulu; SULUT ). Tak ada sejarah yang bisa saya temukan ( karena baru sekarang ini saya mencoba untuk mencermati perjalanan masakan ini ) untuk memberikan sebuah gambaran jelas ketika tinutuan ini menjadi sebuah masakan khas daerah ini.
Untuk itulah melalui tulisan singkat ini saya mencoba untuk menggambarkan saja sebuah rentang jalan seorang penikmat tinutuan yang ingin mengetahui seluk beluk atau asal mula kelahiran masakan ini. Pandangan ini, lahir ketika saya membaca sebuah buku dimana disitu menjelaskan sebuah masakan dari benua asia lainnya bernama India. Dimana terdapat sebuah masakan bernama Kari yang kini telah tersebar hampir keseluruh belahan dunia. Dari sinilah timbul keinginan saya untuk menuliskan sedikit saja sekaligus menjadi awal penulusuran saya terhadap masakan khas daratan pulau Sulawesi bagian utara ini.
Kembali ke soal masakan, sebuah masakan kiranya juga bisa menjadi bagian dari sebuah produk kebudayaan. Ketika tinutuan hadir sebagai sebuah masakan khas dari sebuah daerah sebutlah itu Manado maka ada sesuatu yang dibawanya, ketika dia harus melanglang buana, apakah itu !? sesuatu yang dibawanya adalah nama daerah asalnya tentu saja dan sebuah perkenalan antara dua bentuk kebudayaan misalnya ketika seseorang datang dengan sebuah masakan bernama tinutuan kepada orang di sebuah daerah katakanlah Gorontalo maka masing – masing orang dari dua daerah itu akan saling tukar menukar “informasi” seputar masakan khas dari daerahnya masing – masing. Orang Gorontalo akan mencicipi maskan bernama tinutuan begitupun orang yang datang dari Manado akan pula mencicipi masakan khas dari Gorontalo, sebutlah masakan khas Gorontalo adalah milu siram atau dalam bahasa daerahnya binthe biluhuta. Begitupun seterusnya sebuah bentuk persilangan budaya dari sebuah masakan terjadi. Dan yang terutama adalah tentang sebuah identitas.
Dari hasil persilangan budaya tersebut kita bisa melihat bahwa tidak hanya orang – orang dari sekitaran Manado saja yang bisa membuat tinutuan tetapi tinutuan juga bisa dibuat oleh orang dari daerah lain begitupun sebaliknya yang terjadi kepada masakan milu siram. Dan ini mungkin berlaku juga terhadap semua bentuk masakan yang bertemu.
Contoh diatas juga sampai sekarang bisa kita lihat, bagaimana kemudian milu siram bisa kita nikmati di Manado ini begitupun tinutuan bisa juga di nikmati oleh orang di Gorontalo sana, bahkan bisa menjalajahi lautan sampai di kepulauan Sangihe, Talaud dan sekitarnya. Meski dalam kenyataan kebanyakan yang mengkonsumsinya hanyalah sebatas mengkonsumsi semata tanpa mempertanyakan sejarah makanan bernama tinutuan maupun milu siram ini. Tapi saya tidak ingin menyalahkan para penikmat tersebut, itu adalah hak mereka. Makanan ini bisa menjadi bagian yang tak terpisah dari kehidupan mereka itupun sudah cukup untuk disyukuri.
Memang tidak banyak yang bisa saya ungkapkan lewat tulisan sederhana ini selain sebuah perjalan pendek sebuah masakan yang bertemu dengan masakan lainnya dengan membawa serta sebuah identitas lokal dari masakan ini maupun dari sang pembawa masakan ini. selain itu juga proses akulturasi budaya ternyata bisa juga terjadi lewat sebuah masakan. Tidak hanya masakan dalam bentuk makanan saja. Dalam bentuk minuman pun itu terjadi. Bagaimana kemudian minuman bernama saraba bisa kita nikmati disini tanpa harus ke Makassar sana yang sering disebut – sebut sebagai tanah kelahirannya. Mudah – mudahan di kesempatan lainnya saya bisa melengkapi tulisan singkat ini dengan data – data sejarah tentang masakan baik itu tinutuan dan milu siram maupun masakan yang ada dari daratan Sulawesi bagian utara ini berikut dengan pola persebarannya. semoga saja.
Manado, 15 – 05 – 2005