Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Juli 2010

KISAH UNTUKMU


Saya ada di sebuah pub oh bukan tapi sebuah tempat layaknya pub dan kalian tahu bagaimana suasana pub? Musik yang membuat dada menghentak, jantung yang berdegup kencang mengikuti alunan hentakkan musik yang tersambung pada pengeras suara yang dua sampai lima kali lebih besar daya dan ukurannya dari yang kalian punya dirumah. Atau adakah dari kalian, wahai pembaca saya yang budiman, yang belum pernah ke pub? Sungguh sangat di sayangkan apabila ada dari pembaca saya yang “terlampau” budiman bila belum pernah bertandang ke tempat itu lalu membicarakan hayalan kalian soal tempat itu dengan mengatakan bahwa tempat itu, tempat yang bernama pub itu adalah tempat berkumpulnya para maksiator, ini sebutan yang sengaja saya buat untuk para pelaku maksiat.

Saya bukan hendak menyuruh kalian kesana akan tetapi alangkah baiknya kalian tidak terjebak dengan hayalan – hayalan yang di suntikkan oleh mereka yang merasa telah budiman lebih dulu sehingga kalian, wahai pembaca yang budiman, merelakan nalar kalian di rasuki setan hayalan dan namanya hayalan saya rasa tidak perlu untuk di buktikan kalau kalian, wahai pembaca budiman, ingin menjadi orang yang terlampau mengkakukan diri kalian sendiri dengan pendapat para penghayal itu. Maka buktikan hayalan suapan itu dengan bertandang ke tempat bernama pub.

Masih di tempat yang sebenarnya bukan pub dan saya tak akan menyebut nama asli tempat dimana saya melahirkan tulisan ini. Saya baru saja menyelesaikan membaca sebuah kisah dari buku kumpulan cerpen yang saya beli kemarin. Dan, saya tidak mengerti dengan arah cerita itu maksud saya begini, cerita itu penuh dengan pengandaian atau menggunakan alias – alias atau metafora, meski saya tak tahu pengertian metafora yang sebenarnya itu apa. Tulisan itu kemudian mengilhami saya untuk menulis sepenggal ide yang tergenang akibat satu cerpen itu. Untung saja tidak sampai menyebabkan banjir dan sebenarnya saya tidak perlu khawatir untuk banjir sebab penyimpan air saya masih tetap terjaga walaupun di sisi lain saya sudah menyiapkan segala kemungkinan kalau – kalau saya khilaf sampai menyebabkan banjir. Perahu kano lengkap dengan dayung dua buah di sisi kiri dan kanan, pelampung sebanyak tiga buah, kompor gas mini dan segulung tali yang sering di gunakan para pendaki. Itu saja dulu yang saya siapkan selebihnya tolong di ingatkan lagi, oh iya ada yang terlupa, daftar nomor telpon untuk keadaan darurat. 

Masih juga di tempat yang sama, sejenak saya menghentikkan aktivitas saya untuk mengetik lanjutan cerita untuk paragraph keempat ini. Mungkn kalian, wahai pembaca budiman, tak bisa melihat aktivitas apa yang menghentikan saya tersebut maka baiklah saya akan menceritakan sedikit aktivitas yang lain sehingga menghentikan aktivitas saya yang utama. Saat saya sedang menulis kisah antah berantah ini, saya sedang menikmati segelas kopi yang telah saya buat sebelum menulis kisah ini dan sebatang rokok. Dan saya menghentikkan aktivitas utama saya, menulis karena saya ingin menikmati kopi saya sekaligus menghisap sebatang rokok yang hampir habis dan  tunggu sebentar, saya ingin meminum lagi kopi saya dan menyalakan sebatang rokok lagi dan setelah saya hitung ternyata rokok yang saya habiskan sudah tiga batang untuk waktu yang belum sampai setengah jam dan lagi rokok yang akan saya pasang ini adalah rokok ke empat saya.

Masih di tempat yang sama pula dari pertama kali saya memulai menulis ini tapi musik pubnya tadi sempat berhenti sepuluh menit. Selidik punya selidik tanpa harus mengambil alih tugas para peyelidik yang sedang menyelidiki kasus video mesum pasangan selebritis yang bikin geger dan sempat membuat semua orang jadi moralis ternyata alasan terhentinya musik pub itu karena si penyetel lagu kedataangan tamu perempuan yang saya ketahui dari suaranya pasti seksi kalau saja dia tahu dirinya seksi dan mudah – mudahan dia tak tahu dirinya seksi supaya tidak membuat dirinya kelebihan percaya diri.

Masih juga di tempat yang sama dengan paragraph – paragraph sebelumnya. Barusan juga saya berhenti mengetik cerita ini karena saya sedang mengucek – ngucek mata saya yang selalu salah lihat. Mungkin ini karena pengaruh keadaan mata saya yang terlalu sensitive dengan hal – hal yang begituan. Tapi, alangkah baiknya tak usah di bahas sebab bisa mengganggu alur cerita yang indah meski indahnya tak seperti surga yang sering di hayalkan atau ini adalah cerita yang buruk tapi mudah – mudahan tak seburuk keadaan neraka yang sering dijadikan bahan untuk menakut - nakuti anak – anak termasuk saya saat masih kecil.

Masih di pub yang saya katakan sebelumnya. Kini rokok yang telah saya hisap sudah resmi berubah menjadi empat batang dan kini puntungnya sudah tergeletak tak rapi di dalam asbak keramik. Kini saya dihinggapi kebingungan untuk meneruskan kisah antah berantah ini dari tempat yang sebelumnya saya katakan sebagai pub. Hidung sudah mulai gatal dan saya pun kebingungan dengan rasa gatal yang di buat – buat demi menyambung proses penulisan ini. Sejujurnya, saya menulis ini hanya sekedar ikut – ikutan saja menulis dengan gaya yang seperti ini. Ini semua karena cerpen yang saya baca tadi.  Dan saya tidak akan malu bila di katakan sebagai seorang penjiplak gaya menulis, dasar dari ketidakmaluan saya adalah saya ingin menjaga saja energi menulis saya sebab saya tak bisa meminta orang lain untuk menulis kalau saya tidak berusaha untuk menjaga konsistensi saya dalam menulis, rasanya percuma juga berceramah atau menasehati orang lain sementara si penceramah atau si pemberi nasehat hanya setengah – setengah menjalani semua yang dia ceramahi atau nasehatkan. Betul tidak? Kalau betul saya harapkan untuk tidak berdiri sambil bertepuk tangan atau dalam bahasa kerennya standing applause dan kalaupun tidak betul saya sungguh mengharapkan caci maki yang lebih kasar dari yang paling kasar dari yang yang paling kasar yang pernah tercipta dalam jagad kebahasaan meski tidak dianggap sebagai bagian dari bahasa.

Suara musik masih nyaman berbunyi di pub ini, menandakan saya belum mau beranjak dari tempat ini meskipun hari ini kalau tidak salah adalah hari senin di bulan juni entah hari senin yang keberapa dan kalau melihat kalender hari ini adalah tanggal dua puluh satu juni tahun dua ribu sepuluh. Suara musiknya kembali terhenti, mungkin si penyetel musik sudah bosan. Kini saya hanya mendengar suara air dari kamar mandi yang jaraknya tak terlalu jauh dari bilik tempat saya menulis kisah antah berantah ini.

Meski suara musiknya sudah berhenti tapi saya akan tetap mengatakan bahwa saya sedang berada di sebuah pub dan berada di sebuah bilik. Oh iya, saya punya sedikit cerita pengalaman saya kemarin sore. Saat saya sedang menunggu orang tua saya di depan sebuah hotel, saya melihat sepasang turis asing entah berasal dari Negara apa sedang berjalan kaki tiba – tiba melintas sebuah angkot yang di penuhi oleh anak – anak muda, perempuan dan laki – laki. Melihat kedua orang bule ini, beberapa orang perempuan muda yang ada dalam angkot itu meneriakkan kata – kata makian kepada kedua bule tersebut dengan begitu kerasnya. Saya hanya tersenyum menyayangkan kelakuan mereka itu. Bukan saya hendak menjadi seorang petugas kemanusiaan akan tetapi apa yang sedang berlaku itu cukup menjadi buah pikiran saya untuk beberapa jam saja menafsirkan tindakan anak – anak muda itu. Tafsir tak punya penafsir, saya hanya bisa berasumsi saja mungkin ini adalah sebuah euforia atau kekagetan atau kegagapan ketika melihat orang bule sekaligus ingin mempraktekkan perilaku yang mereka lihat di film – film luar negeri saja. Hehehehehehehe……

Saya masih di salah satu bilik di pub yang sama. Musiknya kini sudah mengalun lagi. Kini alunan musiknya tidak lagi menghentakkan dada dan jantung. Alunan musik lembut dan mendayu – dayu seakan mengajak orang untuk berdansa sambil berpelukkan atau menenggak minuman berkali – kali sambil menghayalkan pengalaman pribadinya bersama orang yang pernah dicintainya sampai harus mengorbankan segalanya. Memang cinta membuat hampir semua orang kehilangan kendali atas alam atas sadarnya. Apalagi di tambah dengan lagu – lagu yang disukai bersama seakan sedang beakting dalam sebuah film mandarin saja. Memimpikkan sebuah cerita yang happy ending dan menyesalinya bila cerita yang diinginkan berlaku sebaliknya atau bad ending. Kenginan untuk menyelesaikan cerita layaknya dongeng Cinderella atau putrid salju dimana selalu berakhir dengan kalimat “dan mereka pun hidup bahagia selamanya” begitu indah bersarang dalam nalar para pelakon drama cinta. Tapi, itu hak mereka juga kan ? tidak betul ?

Masih tetap di bilik pub dan entah sampai kapan saya akan berada di sini. Dan bila terbersit tanya pada diri kalian wahai pembaca budiman tentang kenapa saya selalu memulai dengan tempat saya berada sekarang ini. Saya harap kalian bersabar untuk menunggu jawabannya sebab saya masih ingin bercerita. Alunan musik lembut yang mengajak orang berdansa sambil berpelukkan atau sekedar menenggak minumannya berkali – kali sambil menhayalkan kenagan indah nan pahit bersama orang yang dicintai dahulu sudah berhenti sepuluh menit yang lalu dan kini diganti lagi dengan lagu – lagu sebelumnya. Mungkin ada gerutu tapi begitulah suasana pub. Disini orang bisa di nina bobokkan dengan lantunan halus musik yang mendayu – dayu dan tiba – tiba kembali di hentakkan dengan lantunan musik berirama cepat dan menghentak membuat orang ingin berajojing riang sambil menggesek – gesekkan badan.

Dari salah satu bilik pub ini dan tanpa harus menenggok keluar untuk melihat orang – orang yang sedang beraksi dengan berbagai macam goyangan spesial mereka akan ketahuan dari suara – suara mereka yang berteriak kegirangan saat bergoyang menikmati lantunan musik berkeringat itu.
 
Saya masih menulis menulis dari dalam bilik pub. Kita tetap berteman kan? Ini adalah garis besar dari pertanyaan teman saya ketika kami berkumpul menikmati sore yang baru saja di hujani atau sore itu hujan baru saja selesai turun dengan secangkir kopi di sebuah kantin salah satu universitas ternama di daerah kabupaten Gorontalo. Hari itu adalah hari dimana kami baru saja menggelar acara Launching jurnal kami. Dan selanjutnya pembicaraan mengenai keberlagsungan jurnal ini dilanjutkan di kantin sambl menikmati minuman hangat agar pembicaraan kami tetap hangat atau tetap di jaga kehangatannya. Saya memang meniatkan untuk mundur dari jabatan sebagai pemimpin redaksi jurnal itu dan niat itu terlaksana dengan mulus setelah tawaran saya ternyata tidak tersetujui. Dan kalimat tanya itu pun terlontar dari salah satu teman saya dimana bagi saya tidak seharusnya di tanyakan. Saya tertawa saja mendengar itu, bisa – bisanya pertanyaan itu terlontar. Bukankah kita sama - sama menginginkan perubahan ? akan tetapi untuk memilah mana urusan kerja dan urusan perkawanan saja tidak bisa kita lakukan. Tapi, itu terserah kalianlah. Bila cara berpikir seperti ini tetap di pertahankan maka kita mau tidak mau harus berhadap – hadapan dan itu berarti perkawanan kita hanyalah usaha saling tipu menipu saja. Siapa yang paling hebat tipu muslihatnya maka dialah yang akan memenangkan pertarungan ini.  Dan perubahan yang terjadi pun bukanlah perubahan yang kita inginkan.
Masih di bilik pub yang sama. Suara – suara perempuan – perempuan dalam balutan pakaian super seksi ini saya ketahui karena saya sudah tidak tahan untuk mengintip aksi goyangan mereka dan 1000 kali wow !!! zakar saya sudah di buat bangun dan seribu macam hayalan sudah merangsak masuk kedalam otak saya hendak mengkudeta ide – ide saya dalam menulis. Langsung saja saya kembali ke dalam bilik saya dan tidak lupa memesan satu pitcher minuman dengan kadar alcohol yang rendah. Saat saya hendak berjalan kembali ke bilik saya, saya berpapasan dengan seorang perempuan muda dalam balutan pakaian yang seksi. Baju dengan model terusan ketat dimana panjangnya hanya sampai di atas lutut. Lorong yang hanya bisa menampung satu ukuran tubuh memaksa kami untuk berjalan sambil menyamping dan itu menyebabkan posisi kami berhadapan, saat berusaha berjalan dengan menyamping itulah dan saat kami berada pada posisi berhadapan dadanya yang mengembang pun tersentuh, keadaan itu membuat saya mengatakan permohonan maaf saya kepadanya dan perempuan itu tersenyum saja tapi sebelum jarak kami berjauhan ada yang menahan tangan saya. Saya pun kaget dan berpaling, ternyata tangan perempuan itu menagan tangan saya dan langsung menarik saya ke dalam salah satu bilik. Disanalah untuk waktu tidak sampai setengah jam kami memanjakan bibir kami dan tangan kami. Maaf para pembaca budiman, ini saya ceritakan sekedar sebagai bagian pengalaman saja dan bukan bermaksud berporno riang gembira. Kami hanya berciuman dan saling menjelajah tubuh saja dan tidak sampai dengan adegan telanjang. Ini mungkin sekedar melampiaskan “kegembiraan” hati saja.

Saya kembali ke bilik saya. Saat memasuki bilik, saya mendapati seorang pengantar minuman yang juga seorang perempuan dengan kemeja dari bahan yang agak kasar berwarna biru dan mengenakan rok mini sedang memperhatikan laptop saya. Dia tidak duduk saat mengamati laptop saya tapi hanya membungkuk. Dari arah belakang kelihatan rok mininya terangkat sehingga terlihat sebagian pahanya. Saya langsung duduk dan perempuan itu kaget melihat saya. Maaf katanya, saya hanya tersenyum saja. Saya hanya berkata “tidak apa – apa”. lalu saya melanjutkan kalimat saya, “kamu suka dengan cerita saya ini?”. Pelayan perempuan yang masih berdiri yang mungkin sedang menunggu hukuman dari saya karena telah lancang melihat laptop saya pun berkata “itu cerita apa?”. Saya lalu memintanya untuk membaca sekali lagi cerita ini tapi sayang dia masih punya tugas lain dan akhirnya kami pun bertukaran nomor hape dan saya berjanji kalau cerita ini sudah selesai saya akan menghubungi dia.

Saya meneruskan mengetik cerita antah berantah ini. Dan mungkin kalian wahai pembaca yang budiman akan sedikit bertanya apakah benar ada sebuah  pub yang menyediakan kopi. Tentu saja jawabannya ada kalau kalian mau berfikir untuk memesannya. Saya menuangkan minuman pesanan saya. Meminumnya sedikit dan meneruskan aktivitas menulis saya dari salah satu bilik pub ini. Saat mulai paragraph yang baru, pelayan perempuan tadi kembali ke bilik saya. “maaf” katanya dan saya mengatakan “ada apa?” dia langsung duduk di sebelah saya dan langsung mencium saya tepat di bibir. Lima menit kami bergumul lidah, dan setelah selesai dia berkata untuk tidak lupa pada janji saya. Saya hanya tersenyum dan mengiyakan permintaannya itu. Dua kali sudah saya menikmati ciuman dari dua perempuan yang berbeda. Bila kalian, wahai pembaca budiman, menganggap kedua perempuan ini tidak memiliki harga diri atau saya sengaja untuk menjatuhkan derajat perempuan itu bukanlah maksud saya. Saya hanya penyampai pengalaman saja. Pelayan perempuan itu telah keluar dari bilik saya dan kembali melanjutkan kerjanya sebagai pelayan di pub ini. Dan saya melanjutkan aktivitas menulis saya sambil menikmati minuman yang di antarkan oleh pelayan perempuan tadi.

Saya masih tetap berada di salah satu bilik pub yang saya katakan di awal bukanlah sebuah pub. Sejenak saya menghentikkan aktivitas menulis saya dengan membaca ulang tulisan saya ini dan menemukan sebuah kebosanan. Mudah – mudahan kalian wahai pembaca budiman menemukan kebosanan yang sama pula saat membaca tulisan ini. Saya melihat ke arah asbak, disitu telah ada tujuh puntung rokok. Tujuh, adalah sebuah angka yang mengingatkan saya ketika di umur tujuh tahun saya mengikuti sebuah lomba menulis indah dengan huruf sambung. Dan di akhir umur tujuh tahun, saya mendapat sebuah buku kumpulan roman Indonesia yang di belikan ayah saya ketika dia mengikuti penataran pegawai di Jakarta. Saat itu juga di televisi yang masih setia dengan siaran TVRI tidak seperti siaran televisi sekarang ini yang telah ramai dengan berbagai chanelnya tengah menampilkan tiga film berturut - turut yang diangkat dari tiga kisah roman yang berjudul; Siti Nurbaya, Sengsara Membawa Nikmat, dan Mencari pencuri Anak Perawan”. Untuk cerita roman yang terakhir yang diangkat ke layar televisi ini saya tidak menontonnya sampai selesai.  Namun yang cukup membanggakan saya adalah saya bisa mendapat semangat untuk menulis dari memori lama itu meski saya sering menjebak diri dengan rasa malas.

Saya masih tetap di salah satu bilik pub. Entah sudah berapa lama saya disini tapi saya enggan untuk melihat jam. Satu pitcher minuman ternyata terlalu banyak buat saya. Kepala sudah terasa berat dan perut saya sudah terasa penuh dengan cairan. Saya sudah beberapa kali ke kamar kecil. Dan saatnya saya harus sedikit menjelaskan kenapa saya selalu memulai setiap paragraph dengan tempat saya berada tapi maaf kepala saya sudah cukup berat dan kemalasan saya sudah datang jadi wahai para pembaca budiman saya memohon kebudimanan kalian untuk tidak memaksa saya menjelaskan alasan ini. Bila kebosanan melanda kalian saat membaca kisah saya ini, saya memohonkan maaf sebab saya pun bosan dengan tingkah laku mereka. Tak perlu saya jelaskan “mereka” itu siapa. Biarlah itu menjadi misteri. Bukankah Negara ini penuh dengan cerita misteri. Bahkan cerita yang seharusnya tak pantas untuk menjadi misteri di paksakan untuk di misteri – misterikan. Dan memang, terkadang misteri akan indah bila dia tetap menjadi misteri. Asalkan tidak di sengaja memisterikannya saja. Bila ada yang bertanya indahnya dimana maka akan saya katakan bahwa indahnya misteri itu terletak pada sekian banyaknya perbedaan yang muncul akibat dari usaha untuk memecahkan misteri itu.

Saya masih duduk di dalam bilik sebuah pub, menikmati minuman saya sambil merokok. Sambil membaca lagi tulisan ini. Mengkoreksinya sedikit dan akhirnya selesai juga. Saatnya saya harus meninggalkan bilik pub ini. Mengumpulkan lagi bahan buat tulisan selanjutnya lewat bacaan – bacaan yang tercecer dan sering menjadi biang keluh kesah.   

Manado, 21 Juni 2010









Selasa, 22 Juni 2010

PROSEDUR

Pagi ini, dengan mata yang agak berat sebab semalaman aku tak tidur. Biasalah, penyakit yang sebenarnya bukan penyakit tapi ku anggap sudah menjadi penyakit atau dalam maksud yang lain sebagai kebiasaan yang terus menerus dibiasakan sehingga menjadi penyakit. Insomnia itulah nama penyakit yang tumbuh dari kebiasaan burukku. Sekali lagi, pagi ini dimana jarum jam sudah hampir masuk pukul sepuluh, aku bersiap untuk pergi bersama ayahku buat mengurus kartu tanda penduduk sebagai alat melegalkan aku sebagai bagian dari penduduk sebuah Provinsi, kotamadya, kecamatan dan kelurahan dimana aku tinggal sekaligus juga melegalkan diri sendiri sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia. 

Bila aku ingat – ingat lagi, sudah lumayan lama juga aku mengurus surat pengantar dari kantor kecamatan untuk kemudian surat pengantar itu di bawa lagi ke kantor catatan sipil dan kependudukkan, begitu nama instansi yang akan aku tuju kalau aku tak salah mengingat nama kantornya. Kalau di hitung – hitung lagi mungkin sudah hampir tiga bulan lebih lamanya surat pengantar itu tersimpan rapi di lemari buku ku dan untung saja tidak tertera tanggal kadaluwarsanya. 

Jarak antara rumahku dengan kantor tempat mengurus legalisasi sebagai warga daerah dan Negara memang tidak terlampau jauh dan bisa saja di tempuh dengan berjalan kaki akan tetapi matahari yang cukup terik di pukul sepuluh itu bisa membuat si pencoba jalan kaki ke kantor itu akan lelah sekaligus bermandi peluh sehingga bisa membuyarkan dandanannya. Tapi sekali lagi kuyakinkan, jaraknya memang tidak cukup jauh. Aku bersama ayahku berangkat ke sana dengan menggunakan sepeda motor dan tidak sampai setengah jam sudah bisa sampai dan memarkir motor yang kami naiki di tempat parkir yang sudah tersedia tentu saja. 

Kertas putih, pengantar dari kantor kecamatan kulipat dengan rapi. Aku dan ayahku memasuki kantor itu bersama. Aku sebentar melihat kearah papan pengumuman siapa tahu ada hal yang menarik yang bisa ku baca disana dan memang semua yang tertempel di papan pengumuman itu cukup menarik. Di papan itu tertempel penjelasan mengenai alur atau prosedur pengurusan kartu tanda penduduk dan ada beberapa pengumuman lain tentang penerimaan calon pegawai negeri sipil dan tenaga honorer berikut syarat - syaratnya dan ada sebuah pamflet berwarna hijau daun. Lagi asyik mematutkan diri di papan pengumuman ayahku yang tadi terus ke dalam ruangan memanggil aku untuk menyerahkan surat pengantar dari kecamatan kepada seorang petugas. 

Di dalam ruangan yang lebih mirip sebuah ruang pertemuan yang di bagi menjadi beberapa bagian untuk ruang kantor sehingga ruangan yang pada dasarnya, menurut perhitunganku cukup luas menyisakan sebuah ruangan yang dijadikan ruang tunggu dengan beberapa dereten kursi panjang. Begitu ramainya di dalam ruang tunggu itu. Ternyata bukan hanya aku saja yang ingin mengurus kartu tanda penduduk. Aku langsung berjalan menuju petugas yang ditunjukkan ayahku, seorang perempuan yang berusia sekitar tiga puluh tahun mengenakan jilbab dan masih dengan seragam olah raga. Oh iya, aku baru ingat. Hari itu adalah hari Jum’at. Dan biasanya hari jum’at adalah hari dimana semua pegawai pemerintahan di ingatkan untuk berolah raga dan mudah – mudahan saja sekalian dengan berolah rasa.

Aku menyerakan surat pengantar dari kecamatan kepada petugas itu. Dia melihat sebentar surat pengantar itu kemudian dia bertanya kepadaku “sebelumnya, sudah pernah mengurus KTP?” dengan mantap tanpa menanggalkan keluhuran budi pekerti aku menjawabnya sambil tersenyum “sudah, tapi sudah habis bulan februari tahun lalu”. Petugas itu menyerahkan surat pengantar itu kepadaku sambil berkata “tolong surat pengantar ini di taruh dalam map. Beli saja di sebelah” tak lupa pula jari telunjuknya di ikut sertakan buat menunjuk kearah samping kantor . Aku tersenyum lagi, dan dalam hatiku terbersit sedikit keluh “map lagi…map lagi”. 

Aku berjalan keluar di temani ayahku. Menuju kearah samping kantor sesuai petunjuk si petugas tadi. “map satu” kata ayahku kepada petugas foto kopi yang juga seorang perempuan. Perempuan petugas foto kopi mengambil map merah sambil mengatakan harga yang harus dibayarkan untuk satu map itu. Ayahku mengambil dompet dan membayar dengan uang sepuluh ribuan. Petugas itu menanyakan kepada ayahku kalau ada uang pas. Ayahku mencari uang seribuan sebab harga map itu hanya seharga enam ratusan. Ternyata usaha ayahku untuk menemukan lembaran uang seribuan di saku kanan dan kirinya itu tidak berhasil. Petugas itu kembali ke arah tempat dia menaruh uang hasil pembayaran dan mengembalikkan uang sisanya kepada ayahku. 

Surat pengantar itu kini sudah terlihat cantik dengan pakaiannya bernama map. Pikir punya pikir ternyata secarik kertas pun butuh pakaian agar dia terlihat lebih punya martabat meski harga pakaiannya itu sangat murah. Aku bergegas kembali ke tempat pertama yang aku datangi dengan surat pengantar yang kini sudah naik derajatnya karena sudah berbaju. Aku menyerahkan map yang didalamnya terselip surat pengantar tersebut kepada petugas yang sama. Petugas itu membuka baju dari surat pengantar pengurusan KTP dan mencatat namaku di sebuah buku besar yang berisi daftar nama orang yang mengurus KTP. Setelah itu petugas itu memintaku untuk menunggu sebentar sampai namaku di panggil buat sesi pemotretan.

Lima menit telah lewat sejak aku keluar untuk menunggu namaku di panggil. Aku duduk di luar aula sambil membaca koran terbitan kemarin dan hari jum’at itu. Ayahku memanggilku dari ruang aula. Panggilan pertama ayahku aku pura – pura tak dengar. Panggilan kedua aku menengok ke dalam aula kulihat ayahku meamanggilku sambil melambaikan tangan. Seorang petugas laki – laki entah sudah berapa kali memanggil namaku. Aku bergegas menghampiri petugas itu, lagi – lagi dia memanggil dengan suara jenis baritone yang sungguh – sungguh lebih baritone dari suara jenis baritone. Aku mengangkat tanganku sedikit untuk menunjukkan bahwa orang yang dia panggil telah ada tepat di depannya. Ternyata dia mengerti isyarat tanganku saking mengertinya dia dengan isyarat yang ku buat. Dia menanyakan lagi padaku, “FAJRAN LAMUHU ?” sambil menunjukku dengan kedua jarinya yang terselip pulpen. “iya” jawabku singkat. “berdiri di situ” kini seorang petugas lainnya yang tengah duduk menghadap computer dengan sebuah kamera lengkap dengan penyangganya menyuruh aku menghadap segaris denga lensa kamera. Aku memandang ke bagian belakangku hendak melihat latar tempat aku berfoto. Di situ ada kain berwana merah dan biru dimana masing – masing kain itu di buat layaknya penggaris. Aku berdiri dengan mengambil latar kain biru sebab dengan begitu aku bisa segaris dengan lensa kamera, meski sejujurnya bila di suruh memilih aku akan memilih kain berwarna merah saja. Beberapa kali laki – laki yang bertugas untuk mengambil gambar untuk di pasang pada KTP memperingatkan aku untuk menghadap lensa dan sedikit tersenyum. Saat itu muncul pikiran nakalku untuk membuat foto unik seperti yang pernah akulihat di sebuah film komedi dimana foto yang terpasang di kartu tanda pengenalnya adalah foto saat dia sedang tertawa. Tapi sayang, aku bisa di anggap melecehkan institusi kalau aku berbuat itu. Dan bisa saja urusannya akan jadi panjang.

Sesi pemotretan telah selesai. Kini aku harus menunggu lagi kartu tanda pendudukku selesai di proses. Lima menit saja aku menunggu, lagi – lagi si pemilik suara baritone memanggil namaku. Langsung saja aku menunjukkan batang hidungku dihadapannya. Kartu Tanda Pendudukku sudah selesai, sebelum aku beranjak pergi dia memintaku untuk memeriksa kembali semua keterangan mengenai identitasku yang tertera di kartu itu. “periksa lagi” begitu katanya. “sudah” jawabku singkat. “Periksa lagi” katanya lagi. Aku dengan menahan jengkel menjawab “sudah”. 

Aku meninggalkan si petugas dengan suara baritone itu menuju ke bagian lain agar KTP ku yang baru bisa tahan lama maka harus di pakaikan baju. Aku menyerahkan KTP baruku ke petugas yang ada di sebuah ruangan isolasi dengan sebuah mesin pres di sampingnya. “di fotokopi dulu tiga lembar” kata petugas yang juga seorang perempuan berjilbab tapi tidak mengenakan pakaian olah raga mungkin dia lagi malas berolah raga atau bisa saja dia lagi mendapat halangan untuk berolah raga. Aku mengambil lagi KTP baruku dan pergi ke tempat foto kopi yang tadi ku datangi saat membeli baju buat surat pengantarku. Kini aku pergi sendiri, ayahku menunggu di depan ruang terisolasi itu. 

Di tempat foto kopi yang tadi kudatangi saat membeli baju buat surat pengantarku sudah ada dua orang lainnya yang hendak mem fotokopi KTP baru mereka. sambil menunggu giliranku untuk memfoto kopi KTP baruku. Aku memperhatikan ruang foto kopi itu sampai perhatianku beralih pada pembicaraan dua perempuan yang kebetulan berdiri bersebelahan denganku. Seorang perempuan yang mengenakan busana muslimah berwarna pink berkata kepada temannya “kalau saya menikah nanti sebelum masa berlaku KTP saya berakhir apa saya harus mengurus KTP lagi?” temannya yang juga dengan balutan busana muslimah berwarna hitam kemudian menjawab “ya iyalah, kan di KTP sebelumnya status kamu belum menikah. Walaupun belum habis masa berlaku KTP kamu. Kamu harus mengurusnya lagi”. Sampai disitu acara menguping pembicaraan mereka sebagai acara penghilang rasa bosan. Urusan kopi mengkopi mereka sudah selesai. Kini giliranku untuk mengkopi KTP. Selesai dengan urusan kopi mengkopi KTP sebanyak tiga lembar, aku bergegas kembali ke dalam kantor menemui si petugas pres – pres an KTP. Aku menyerahkan tiga lembar kopian KTP bersama KTP aslinya. “tujuh belas ribu lima ratus” kata petugas dari ruang terisolasi itu. Aku meminta uang kepada ayahku. Beliau memberiku uang dua puluh ribuan. Aku menyerahkan uang dua puluh ribuan itu kepada petugas, si petugas kembali berkata “ada uang pas?” aku menggeleng sambil menjawab “tidak ada”. Si petugas mengeluarkan uang dari laci mejanya uangnya kurang lima ratus rupiah. Aku merelakan saja lima ratus rupiah dan mengambil sisanya dua ribu rupiah. Lagi – lagi terbersit pikiran nakalku. Seandainya saja petugas itu bisa diajak bercanda aku akan mengatakan kepadanya begini, “lain kali sediakan permen supaya kalau tak punya recehan lima ratus bisa diganti dengan permen seperti di supermarket”. KTP baruku yang sudah selesai di pres sudah ada di tanganku. Terlihat begitu cantik dengan balutan pakaian transparannya. KTP itu kuserahkan ke ayahku sebab dia ingin melihat juga KTP ku yang berbaju transparan itu dan beliau berkata “sama saja kualitas pres nya dengan tempat lain” kata – kata ayahku ini cukup bisa memberi rangsangan pada alam pikirku.

Kami berjalan keluar dari kantor kependudukan itu dan berjalan ke tempat dimana motor yang kami naiki di parkir. Kata – kata ayahku tadi masih menggelitik alam pikirku. Kuperhatikan lagi areal gedung kantor itu sampai dengan tempat foto kopinya. Sempat aku bertanya dalam hati pasal tempat foto kopi itu. Tapi sudahlah, sebab pikiranku yang “kotor” langsung mengarah pada kata “monopoli”. Dan aku juga sempat menyayangkan kenapa aku tadi tidak menanyakan pada petugas pres – pres an itu, kalau boleh mem pres KTP ku di tempat lain. Tapi lagi – lagi aku harus mencoba bijak sebagaimana slogan “Orang Bijak Taat Pajak” tapi bagiku itu akan berubah menjadi “Orang Bijak Tak Usah Banyak Tanya” ikuti saja prosedur yang ada maka anda akan termasuk warga yang baik. Atau bisa saja kalau aku bertanya soal mem pres di tempat lain pasti dianggap tidak nyambung atau bahkan tidak cerdas. Biarlah, yang penting aku sudah punya KTP dan resmi jadi Warga Daerah dan Warga Negara. Urusan tanya menanya yang dianggap tidak nyambung atau tidak cerdas disimpan saja untuk nanti kalau semua sudah mengerti benar dengan demokrasi. Begitu pikirku saat aku sudah pergi menjauh dari kantor urusan kependudukan itu.
                                                          Manado, 22 Juni 2010

Jumat, 21 Mei 2010

PAMIT

Tentu kau kaget kalau aku datang bertamu ke rumahmu malam ini. Tanpa memberitahumu lebih dulu lewat sms maupun menelpon. Aku hanya ingin sekedar memberi kejutan saja untukmu sebab aku sudah lama tak memberi kejutan lagi padamu sejak perpisahan kita beberapa tahun silam. Dan kemarin, setelah beberapa tahun yang silam itu terlewati hingga saat istirahat pun pertemukan kita, kau dan aku, untuk sekedar melepas letih menahan rindu, ini menurutku.

Maaf kalau malam ini setelah beberapa malam telah menjadi waktu buat kita, kau dan aku, entah selesai atau tidak melepas letih rindu. Aku harus kembali melanjutkan perjalanan ku sendiri dan kau pun begitu, kurasa. Sebab sepanjang pertemuan istirahat kita, rasanya sudah lebih dari cukup buat kita untuk sekedar saling melihat, menatap bahkan menuangkan ego.

Kau baru saja melepas baju penat mu yang basah oleh peluh perjalanan dan juga basah oleh guyuran gerimis hujan bulan Februari. Aku tak mungkin menawari mu rokok yang masih tersisa dari perjalananku. Malah kau yang menawariku seteguk air putih segar bersama kue lapis yang kau iris tipis sebanyak empat. Sampai akhir pertemuan kita kue itu tak kusentuh sedikitpun dan aku hanya meneguk beberapa kali air putih suguhanmu tadi.

Aku tak bisa bahkan tak punya kemampuan berbasa basi sampai kucoba bercanda pun hasilnya malah membuat berantakan pertemuan kita ini sebab bercandaku mengingatkanmu bahkan menjadikanmu berpikir tentang sifatku dahulu yang paling kau benci. Tak apa, sepanjang apapun ku jelaskan tetap tak akan merubah apapun. Adalah hak mu juga untuk tetap dengan ketetapan hatimu.

Malam ini aku sekali lagi mencari segurat harapan di wajahmu tapi tak juga ku temui sebab wajahmu terlalu jauh kau palingkan. Dan….aku pamit, bukan untuk sementara waktu tapi untuk selamanya. Bila nanti kembali kita berjumpa, biarlah kita bagai dua orang pengelana yang saling asing.

Malam itupun aku melanjutkan perjalananku meski seharusnya aku bisa bertahan sampai terbit matahari. Kutinggalkan dirimu sendiri duduk bersama sisa bau sebatang rokok kretek terakhir. Mendung menggantung manis menutupi bintang. Aku berjalan sambil bernyanyi dengan hati gembira ala para pengelana. Aku hanya berharap, aku bisa segera bertemu pengelana lain untuk sekedar meminta sebatang rokok saja. Dan kau tahu meski kau tak mau tahu, lima jam setelah pertemuan kita, kau dan aku. Aku di pertemukan juga dengan para pengelana. Dan kau tahu meski kau tak mau tahu, aku mendapat hadiah sebungkus rokok kretek yang sama seperti yang ku hisap saat kita berjumpa sampai kita berpisah, di tambah lagi aku menerima sebentuk kemurahan hati para pengelana berupa kesempatan untuk menghabiskan malam bersama secangkir kopi yang tak pernah aku rasakan selama ini baik aroma maupun rasanya. Aroma kopi yang begitu asing tapi memberikan kenikmatan tersendiri kepada penikmatnya dan kau tahu meski kau tak mau tahu, ketika kucicipi kopi itu, sungguh di luar dugaanku, sebab rasa dan aroma kopi itu saling mengisi dan melengkapi dan tak tahulah apalagi yang harus kuucapkan. Ada sebuah kenikmatan yang begitu asing, yang tak pernah aku rasakan. Itu yang bisa aku tangkap dari sebuah kenikmatan kopi suguhan para pengelana itu.

Selesai pesta kecil minum kopi, aku lanjutkan lagi perjalanan ku dan kali ini aku ke barat mengikuti sebuah kisah yang di ceritakan para pengelana pemilik kopi tadi. Dan kau tahu meski kau tak mau tahu, aku mendapat hadiah sekantung kopi bersama sebuah pesan. Akan ku ceritakan semua ini padamu nanti meski nanti itu tak ada lagi.

Kaputi Indah, 20 – 02 – 2010

Rabu, 03 Juni 2009

SEBAB AKU INGIN………

Lahir ditanah ini membuat aku menyimpan begitu banyak keinginan menjadikan aku rindu untuk mengetahui semua hal baik yang nampak maupun yang tidak nampak oleh mata. Kepergianku dari tanah ini saat umurku masih begitu sedikit membuat aku harus berpisah dengan semua hal tentang tanah ini. Tanah dimana didalamnya menjadi penyimpan sebagian dari tubuhku saat pertama kali ke dunia.

Hanya ada beberapa kenangan saja yang tersimpan di memori otakku yang harus ku akui sampai sekarang dan hanya aku sendiri yang tahu akan kapasitas memori otakku, orang tuaku sendiri pun tak tahu bahwa anaknya yang pertama ini mempunyai kapasitas memori di atas rata – rata. Sampai sekarang aku masih bisa mengingat tempatku sekolah yang kala itu masih ditaman kanak – kanak. Aku sempat menjadi saksi sebuah monument didirikan, monument untuk mengenang seorang pejuang daerah yang tak pernah ku baca secara detil sepak terjangnya di kancah perjuangan kemerdekaan. Seorang pejuang yang bagiku pantas disandingkan dengan semua pahlawan dari daerah – daerah lain.

Sembilan tahun lamanya aku berpisah dengan tanah ini, meski sesekali aku berkunjung jika datang masa liburan sekolah hanya satu permintaanku, pulang ke tanah kelahiranku meski keinginanku itu harus berupa mimpi – mimpi saja tapi apabila datang waktunya mimpi – mimpi itu diwujudkan bukan main gembira rasa hatiku dan lagi – lagi aku harus memendam semua kegembiraan rapat – rapat dalam hatiku sebab aku tak ingin terlalu mengumbar kegembiraanku biarlah itu kurasakan sendiri sebagai sebuah kemenangan kecil terwujudnya mimpi – mimpi panjang ku.
Mungkin saja kalian yang membaca kesaksian ini tak akan pernah percaya akan semua cerita – cerita yang kusampaikan ini, tapi inilah sebuah kebenaran lama yang begitu rapat terkunci dalam hatiku selama bertahun – tahun. Aku hanya bisa menuliskan semua kesaksianku.

Sembilan tahun lamanya aku hidup di sebuah tanah di seberang lautan, sampai – sampai aku mengerti bahasa daerahnya bahkan aku pernah ambil bagian ketika sekolahku ingin mengutus perwakilan dalam sebuah perhelatan akbar dalam rangka perayaan hari kemerdekaan. Aku dan beberapa orang temanku yang saat itu masih di bangku sekolah dasar diutus untuk ambil bagian dalam sebuah rangkaian acara yang akan di gelar dalam perhelatan akbar itu. Kami akan membawakan tarian daerah bernama Alabadiri secara massal jadi setiap sekolah mengirimkan sepuluh orang perwakilannya. Ini menjadi sebuah pengalaman yang membuat aku harus menambah lagi dalam daftar catatan mimpiku jika kelak aku pulang ke tanahku. Catatan tentang keinginanku untuk bisa menarikan satu tarian daerah dari tanahku sendiri. ……………..

Rabu, 19 November 2008

AKTIVIS ITU APA ?

Musti mo sanang atau perlu ba pikir ulang stau kang kita ?!
Tiap baku dapa deng tamang – tamang salalu dorang ba togor deng sebuatan bagitu.
Ini bukang soal dorang pe ba togor, kita pikir deng bahkan samua orang pasti bapikir sama deng kita, kalau orang batogor itu sebagai bentuk keakraban diantara manusia dan perlu dua orang atau lebih untuk menjalin sebuah keakraban.
Tapi, yang bekeng kita bapikir akang itu depe ba pangge pa kita deng sebutan ”AKTIVIS”. Ini yang bekeng kita hanya senyum – senyum malu pa diri sandiri sampe jaga ba ukur – ukur pantas atau tidak kita dapa sebutan bagitu.
Sama deng baru saja kita alami, pas baru mo pulang ka kos ada mo pigi ba tunggu oto, kita baku dapa deng tamang satu angkatan di fakultas.
Deng depe suara yang ba bas skali kong deng ba taria’ sebagai sebuah bentuk ekspresi keakraban dia ba togor deng suara karas.
“Eh, aktivis!! Apa kabar !?”
“Bagaimana ini keadaan ?”
Dengan cukup senyum malu campur risih tanpa mengurangi suasana keakraban yang terjadi. Kita ba jawab singkat.
“Bae – bae”
Tanpa kehilangan bahan, dia kembali melanjutkan keakraban.
“kita dapa lia pa ngana di televisi kemarin ada di demo, di siaran berita daerah.”
“Mantap !!”
Kita ba jawab deng tatawa kiring’
“Hehe……!!”
Sekaligus ada ba inga – inga ulang kapan ada turun demo.
Lagi – lagi hanya karna tidak ingin mengurangi pertemuan penuh “keakraban” (kali ini pake tanda kutip), kita hanya senyum – senyum saja sambil menganggukkan kepala tanpa tahu sebagai penanda untuk apa, karena hanya kebingungan yang ada dalam kepala dengan pertanyaannya.
Teman itu kembali bertanya, laki inidengan persoalan kuliah.
“Ada baurus apa skarang !?”
“So klar ?”
Ada granat maladak ( silahkan ditirukan atau minimal di bayangkan saja bagaimana granat maladak di kapala)
Deng sedikit malas kita berusaha ba jawab deng jujur.
Untuk jawaban pertanyaan pertama dan kedua. Sekaligus.
“Sibuk ba urus skripsi.”
Singkat padat jelas tanpa rekayasa mimik.
“capat – capat jo”
“so banyak torang pe satu angkatan yang so klar”.
Granat maladak lagi.
Lanjutnya lagi.
”Ngana ini memang Si Anak Hilang”
“Makanya, kita so jaga ba urus kita pe skripsi skarang”
Kita ba tanggapi depe cirita.
Kong somo ka mana ini ?
“Pulang kos, mo istirahat dulu”
Singkat saja untuk menjawabnya.
“Oke dang kalo bagitu”.
“Yoai”. Kita ba jawab depe salam perpisahan.
Perjumpaan dengan tamang ba bekeng satu pertanyaan timbul.
Lagi – lagi ini soal kata aktivis
Apa so sebenarnya aktivis itu.
Apakah orang yang sering turun demonstrasi, aktif di organisasi khususnya organisasi mahasiswa, yang depe kuliah nda ta urus kong tambah le punya gaya berpakaian yang lain dari yang lain itu bisa disebut sebagai aktivis.
Hah !!. Dari pada pusing – pusing ba pikir, lebe bae ba pikir bagaimana mo klar kuliah supaya granat nda mo maladak.
Toh, tiap orang punya pendapat berbeda soal kata itu. Yang penting, kita aktif di organisasi bukan pada persoalan supaya mo dapa pangge deng kata itu. Mar nintau yang laen bagaimana. Itu dorang pe hak berpikir.
Manado (kos al katras), 06 – 06 – 2007

Minggu, 26 Oktober 2008

ORANG – ORANG BERJUBAH PUTIH

Oleh; Fajran

Aku pergi meninggalkan tubuhku yang terbaring diatas tempat tidur. Kutatap tubuh yang selama ini kutempati, pulas dalam posisi terlentang dengan tangan kiri berada di dada dan tangan kanan yang terletak diatas jidat sedang kedua kaki dalam posisi tersusun dengan kaki sebelah kanan diatas kaki kiri. Sementara itu, waktu sudah hampir setengah lima pagi. Kubergegas menuju mushala sekolahku, di mushala inilah apabila aku dan tubuhku menyatu, kami menghabiskan waktu bersama dengan teman – teman untuk mengaji dan tentunya shalat berjamaah.

Aku mengganti baju kaosku dengan kemeja koko warna hijau dan sarung serta sajadah yang biasa aku dan tubuhku gunakan. Udara dingin di subuh ini terasa begitu menusuk. Aku memutuskan untuk mengambil air wudhu di mushala saja. Tak biasanya para penghuni rumah belum ada yang bangun, aneh. Padahal biasanya mereka yang membangunkan aku dan tubuhku, yang lebih aneh lagi tak terdengar suara pengajian dari corong mesjid. Sunyi senyap.

Aku berjalan menyusuri jalanan kompleks perumahan yang lengang. Belum lagi, udara dingin serta kabut tipis yang lebih menambah dinginnya pagi. Aku berjalan terus dan berharap bertemu teman – teman yang setiap subuh pasti bertemu disimpang tiga jalan, tapi tak ada. Ketakutan merambah dan menggerayangi, apalagi di salah satu rumah yang masih berada di kompleks perumahan ini baru saja ditimpa duka. Ayah dari seorang temanku belum cukup tiga hari meninggal dunia. Hal inilah yang menambah ketakutan ku saat berjalan melewati simpang tiga itu. Ku percepat langkahku agar bisa segera sampai di mushala. Tidak sampai 50 meter lagi aku sudah akan sampai di mushala namun kecemasanku belum juga hilang, sesekali aku menoleh kebelakang dan tidak sedikitpun untuk memperlambat jalanku dengan sesekali berdehem dan menghentakan kakiku sesekali untuk sekedar mengusir ketakutan.

Lega juga rasanya, saat aku telah sampai dipelataran mushala. Kulihat lampu dalam mushala begitu terang tak seperti biasanya. Terang benderang seperti dipancarkan dari sebuah lampu ukuran besar. Aku melewati teras mesjid dan sebentar saja menengok kedalam mesjid. Disana kulihat empat orang sedang duduk, mereka mengenakan jubah putih dan sorban, mungkin mereka adalah teman – temanku dari jamaah tablig yang semalam menginap disini, begitu pikirku. Selesai itu aku langsung menuju tempat berwudhu. Saat aku hampir selesai berwudhu, azan mulai dikumandangkan. Suara azan yang begitu merdu serta memberi semangat kepada setiap orang untuk bangun pagi itu dan rela menembus dinginnya pagi membuatku terhenyak. Bergegas aku mengenakan sarungku dan masuk kedalam mushala. Aku mengambil tempat duduk dibelakang mereka, dengan jarak agak jauh.

Azan subuh yang merdu dipagi itu selesai dikumandangkan. Aku terkejut saat sang muazin berbalik akan kembali ketempatnya semula, wajahnya begitu bercahaya dan memandang kepadaku dengan sunggingan senyum yang baru kulihat kali itu sebuah senyum yang menyejukkan hati. Kutatap terus sang empunya senyum istimewa itu, dengan mata keheranan dan tanya yang tiada habis. Seorang dari keempat orang itu berdiri dan berbalik menghadap padaku. Aku salah tingkah saat dia menatapku dengan tatapan dan wajah yang seperti sang muazin tadi. Aku tertunduk tak mampu menentang tatapan matanya yang lembut. Kini kulihat dia telah berdiri di hadapanku dan mengajakku berdiri.

“sahabat bangkitlah dari dudukmu“. Suaranya begitu lembut menggetarkan hatiku.

Kuangkat kepalaku dan kudapati dia tersenyum dan lengannya terulur dengan telapak tang terbuka seakan menunggu aku membalas uluran tangannya. Aku berdiri sambil memegang telapak tangannya. Aku begitu ketakutan.sampai dia kembali berkata yang menjadikan aku lebih tak mengerti dengan kejadian ini.

“ kau yang akan mengimami kami sekarang, dan kami telah menyediakan pakaian yang pantas untukmu.” Dia menoleh lagi kebelakang, kearah seorang temannya yang sedari tadi sudah berdiri, di kedua tangannya terdapat sebuah kain yag terlipat rapi. Temannya itu seolah sudah mengerti dengan maksud itu. Berjalan mendekatiku dan tanganku tetap menggenggam erat tangan salah satu dari mereka yang tadi memintaku berdiri. Dia mengambil lipatan kain itu dari temannya setelah melepaskan genggaman tangannya dari tanganku. Lipatan kain itu yang saat di buka adalah baju gamis lengkap dengan sorban yang semuanya berwarna putih. Aku terkejut, mendapat hadiah baju gamis dan sorban yang selama ini kuimpi – impikan. “pakailah”. Katanya, sambil meminta temannya yang membawakan lipatan baju tadi untuk membantuku mengenakan sorban. Kini, pakaianku telah diganti dengan pakaian gamis dan sorban putih sama seperti mereka berempat.

“Mari”, dia mengajakku menuju kearah kedua temannya yang tengah duduk. Saat aku dan kedua teman mereka telah berada dekat dengan mereka. Mereka berdiri, lagi – lagi wajah mereka begitu teduh dan senyum lembut yang tersungging , sama seperti kedua orang yang menemaniku tadi. Teman mereka yang tadi berbicara denganku yang menjadi juru bicara mereka mempersilahkan ku untuk duduk di tempat shalat imam. Awalnya aku ragu dan sekali lagi dia berkata dengan suara penuh kelembutan, “kau yang akan menjadi imam shalat subuh kami”. Perkataannya disambut dengan anggukan ketiga temannya. Aku melangkah menuju ke tempat shalat imam, kudapati disitu telah tergelar sajadah yang begitu indah, baru kali itu kulihat sajadah yang indah dan saat ku injakkan kakiku keatas sajadah itu, kain itu begitu lembut.

Aku berdiri dan kembali menoleh kepada mereka, mereka tersenyum. Sang muazin langsung mengungumandangkan qamat, suaranya yang merdu kembali kudengar. Tanganku bergetar saat mengangkat takbir pertama, tak kusangka saat aku mengucapkan takbir suara yang keluar dari tenggorokan kurasakan begitu merdu. Entah surat Al Qur’an apa yang kubaca saat shalat subuh itu. Shalat memasuki akhir, dan saat aku menengok kekanan dan kekiri untuk salam kulihat jamaah subuh sudah bertambah begitu banyak dan semuanya mengenakan pakaian putih. Mushala sekolah yang hanya bisa menampung jamaah kurang lebih seratus orang kini telah berubah menjadi sebesar mesjid, bahkan lebih besar dari masjid agung dikotaku.

Selesai itu aku berbalik, untuk meminta seorang dari mereka berempat untuk berdoa, mereka kembalikan padaku untuk berdoa. Lagi – lagi aku terkejut, ketika aku berdoa, aku berdoa tak seperti biasanya aku berdoa. Begitu panjang dan sampai aku meneteskan air mata semua jamaah pun ikut meneteskan air mata.

Hal terakhir yang mereka minta adalah memberikan khutbah singkat untuk mereka, lagi – lagi aku tak bisa menolak. Kuambil buku fadhilah amal dari atas mimbar dan membacakan sebuah kisah Rasulullah.mereka tertunduk mendengarkan bacaan ku.

Kututup kembali buku fadhilah amal dan berdiri diikuti oleh semua jamaah. Mereka besalam salaman satu sama lain sambil berpelukkan akupun bersalaman dengan mereka sama seperti yang mereka lakukan hampir semua jamaah shalat subuh yang begitu banyak, kusalami semuanya. Selesai dengan itu, aku memohon untuk pamit untuk kembali ke rumah. Saat aku akan membuka gamis yang tadi diberikan, mereka mencegah sambil berkata, “sahabat, baju ini kami berikan padamu, bukankah kau telah mengimpikan untuk memiliki baju ini”. Berkali – kali aku mengucapkan terima kasih sambil menyalami tangan mereka yang halus. Tak kusadari, aku meneteskan air mata. Segera aku pamit sambil mengucapkan Assalamu alaikum, dibalas salamku dengan suara semua jamaah secara bersamaan hingga suara mereka seperti menggema. Ke empat orang yang pertama kali kutemui di mushala tadi mengantarkanku sampai diteras. Aku berjalan menyusuri jalan yang tadi kulalui. Hatiku berkecamuk penuh tanya tentang semua kejadian yang baru saja ku alami tadi. Rasa penasaranku membuat aku harus menoleh lagi kebelakang, kearah mushala, saat aku menoleh untuk melihat kembali ke mushala, kudapati suasana yang tadinya terang benderang tidak ada lagi. Kegelapan menyelimuti tempat itu. aku kembali mempercepat langkahku. Sedang baju gamis yang ku kenakan tak kupakai lagi aku kembali mengenakan baju shalat andalanku. Sementara itu, hari masih penuh dengan kegelapan dan dingin yang menusuk.

Jalan yang sama kulalui saat berangkat tadi masih sepi. Aku terus mempercepat langkah, tinggal lima puluh kilometer lagi aku akan sampai di rumahku. Sepi terlalu erat membungkus pagi ini. Memasuki haaman rumahku, keadaannya sama seperti saat kutinggalkan tadi, masih sepi. Tak biasanya pagi ini mereka para penghuni rumah belum bangun. Aku masuk kedalam rumah, dan langsung menuju kamarku, kulihat tubuh yang menjadi tempat tinggalku tetap dalam posisi terlentang. Aku masuki tubuh tempat tinggalku dan kembali aku dan tubuhku menyatu menjadi “kami”.

***

Disekolah, pengalaman itu kami ceritakan kepada seorang teman yang sudah hampir sebulan lamanya menjadi sahabat karib, sejak dia mengajak kami untuk mengikuti salah satu kelompok jamaah, dimana sala satu kegiatan mereka adalah dengan pergi berkunjung ke mesjid lainatau dalam istilah yang kami dengar disebut “keluar”. Dalam kegiatan untuk “keluar” ini punya waktu yang ditetapkan ada 3 hari, bisa 3 bulan ataupun 3 tahun. Kami, pernah mengikuti kegiatan ini hanya sehari saja itupun mengambil waktu hari sabtu dan selesinya hari minggu.

Pukul delapan lebih 30 menit pelajaran pertama dimulai, kami, dan teman kami, namanya Buyung. Duduk di deretan meja paling belakang agar bisa bercerita tanpa diketahui oleh si pengajar. Saat kami menceritakan kejadian itu, dia begitu senang sambil berkata, “mimpi semacam itu yang selama ini aku idam – idamkan”. Tapi bagi kami, itu sesuatu yang amat ganjil rasanya. Sampai – sampai, buyung menanyakan amalan apa yang kami lakukan. Untuk urusan amalan, kami berpikir lagi amalan apa yang kami lakukan sehingga mendapat pengalaman mimpi seperti itu yang justru menjadi impian teman kami, Buyung. “kau tahu”, Buyung mulai lagi bercerita. ‘kau sholat dengan semua sahabat – sahabat nabi, itu harus kau ingat selalu”. Buyung menyimpulkan cerita kami, yang bagi kami, itu hanyalah bunga tidur saja. Dia kembali membantah. “tidak, kawan” itu bukan sekedar bunga tidur. Itu rahmat dari – Nya. Pembicaraan kami dan Buyung terhenti karna si pengajar menegur kami dengan lemparan kapur dan tepat mengenai jidat Buyung. Kami, langsung pindah ketempat duduk kami masing – masing.

Sampai sekarang, kejadian itu terus teringat dalam memori, apalagi setelah kejadian aneh itu menyusul pula kejadian aneh lainnya namun itu tidak berlangsung saat subuh tapi pada saat sholat Dhuhur.